Senja Manokwari eisa pelan-pelan, angin laut susup lewat jendela mod, ombak tak pernah lelah peluk pantai, laut sudah lama berdamai dengan kehilangan.

Di kota ini, senja bukan hanya warna, dia turun bareng suara perahu nelayan, lampu pelabuhan pecah di muka laut, bau pinang basah kena hujan tanah Papua.

Di tepi pantai, langit jingga jatuh di punggung ombak, burung-burung pulang ke hutan Arfak, laut diam-diam simpan sisa cahaya matahari, sebelum malam turun pelan ke wajah kota.

Tanah ini telah lama belajar bertahan, seperti api kecil di ujung tungku, masih menyala walau angin malam kencang, masih menyala meski malam datang berulang.

Waktu cahaya terakhir jatuh di ujung Manokwari, aku selalu percaya —

Mansren pegang Papua di telapak tangan-Nya; Na fra ya… Na fra ya…

Mansren jaga tanah ini selamanya.